Widget HTML Atas

Apakah Bohong Demi Kebaikan Diperbolehkan? Simak Penjelasan Buya Yahya

Bohong adalah hal yang dilarang dalam Islam, karena termasuk dalam sikap buruk. Namun ada ungkapan berbohong untuk kebaikan, yang banyak diyakini orang-orang. Lalu apakah bohong demi kebaikan diperbolehkan dalam Islam?

Menanggapi hal ini, Buya Yahya memberikan penjelasan secara konkret. Mulai dari hukumnya, contohnya, hingga bohong seperti apa yang diperbolehkan. Untuk mengetahui penjelasannya, simak rincian berikut ini:

Apakah Bohong untuk Kebaikan Diperbolehkan dalam Islam?

Bohong demi kebaikan diperbolehkan
Ini kata Buya Yahya terkait berbohong untuk kebaikan
Konsep berbohong dalam Islam merupakan hal yang dilarang. Penjelasan tentang larangan berbohong ini, sudah ada dalam Al-Qur'an serta hadist-hadist. Jadi, konsep berbohong ini sudah tidak asing lagi untuk kaum muslim.

Lalu ada juga konsep berbohong demi kebaikan yang banyak dilakukan. Meski konteksnya terkesan baik, namun sebenarnya hal ini tidak bisa diartikan dengan mudah. Pada salah satu ceramahnya, Buya Yahya menjelaskan tentang konsep ini sebagai jawaban.

Menurut Buya Yahya, berbohong memang dilarang. Namun berbohong untuk kebaikan diperbolehkan dalam batasan tertentu. Jadi, tidak semua berbohong untuk kebaikan bisa diartikan sebagai hal yang boleh dilakukan.

Apabila bohongnya adalah untuk menyesatkan orang atau merugikan, maka tidak boleh. Lebih lanjut, Buya Yahya juga menjabarkan kebohongan dalam kebaikan apa yang diperbolehkan sehingga konteksnya menjadi baik.

Bohong untuk Kebaikan yang Diperbolehkan

Seperti yang sudah disebutkan di atas, Buya Yahya sudah memberikan beberapa contoh bohong demi kebaikan yang boleh dilakukan. Hal ini, tentu bisa dijadikan acuan untuk mulai dipahami dari jika kemudian ingin diterapkan.

Sebagai tambahan, setiap klasifikasinya juga dilengkapi dengan contoh. Karena jika ada contohnya, maka pemaparannya bisa dipahami dengan lebih baik. Untuk mengetahui penjelasannya, simak detail uraian berikut ini:

1. Bohong Demi Mendamaikan Orang

Jenis pertama yang diperbolehkan adalah berbohong untuk mendamaikan orang. Untuk jenis yang satu ini, Buya Yahya menjelaskan pemahamannya secara menyeluruh. Hal ini dikarenakan banyak yang banyak orang yang melakukannya.

Misalnya saat A memiliki dua teman yang saling berselisih. Pihak A bisa mengatakan kepada B bahwa C orang baik ataupun sebaliknya, meskipun tidak disuruh. Hal ini bisa membuat yang berselisih bertemu dan berdamai meluruskan masalah.

2. Bohong yang Tidak Mengandung Mudharat

Kemudian untuk jenis kedua adalah bohong yang tidak mengandung mudharat. Maksudnya adalah bohong masih boleh, apabila tidak ada sifat yang memberikan kejelekan di dalamnya. Hal ini juga bisa dibuat permasalahannya dengan jelas.

Contohnya saat A berkata kepada B, bawa C pernah mengirim uang sebanyak 3 juta. Padahal hal ini tidak pernah terjadi, maka didalamnya sudah mengandung mudharat. Jika dilakukan, maka dosa besar akan didapatkan.

3. Bohong untuk Menenangkan Hati Orang Tua

Untuk jenis yang ketiga adalah berbohong demi menenangkan hati orang tua. Contohnya saat anak di pesantren, kemudian orang tuanya menelepon dan bertanya apakah kondisinya sehat. Jika anak ingin menenangkan hati orang tua, maka bisa dijawab sehat.

Hal yang menguatkan adalah orang tuanya tidak bertanya secara detail. Kecuali bertanya apakah matanya sehat dan anak menjawab sehat padahal tidak, maka ini terhitung dosa. Begitu penjelasan dari Buya Yahya.

4. Bohong yang Tidak Merugikan Semua Pihak

Terakhir adalah bohong yang tidak merugikan semua pihak. Bohong yang merugikan misalnya, ada karyawan toko yang berbohong kepada bosnya bahwa ada keuntungan sebesar 1 juta, padahal nilai yang sebenarnya adalah 1,5 juta.


Hal tersebut sudah merugikan pihak bos karena keuntungan toko diambil. Namun di satu sisi juga merugikan diri sendiri, karena akan mendapat dosa dari Allah. Maka jika demikian, bohongnya tidak diperbolehkan dan harus menjauhinya.

Penjelasan tentang bohong demi kebaikan dari Buya Yahya ini tentunya bisa dijadikan acuan untuk dipahami. Jadi sudah jelas perbedaan antara bohong untuk kebaikan dengan bohong yang lainnya. Jika semua sudah dipahami, maka akan mudah membedakannya.