Widget HTML Atas

Pertanyaan Suami Menanggung Dosa Istri dan Anaknya Dijawab Buya Yahya, Ini Penjelasannya

Buya Yahya menjawab pertanyaan dari seorang jamaah terkait apakah suami menanggung dosa istri dan anaknya dalam sebuah kajian. Satu hal yang menarik adalah, saat jamaah tersebut belum selesai bertanya, Buya Yahya langsung memotong.

Pertama Buya Yahya bertanya terlebih dahulu darimana jamaah tersebut mendapat pernyataan suami menanggung dosa istri dan anak. Lalu kedua, Buya Yahya langsung berkata ‘tidak benar’ di tengah pertanyaan yang diajukan. Untuk penjelasan lebih lengkapnya ada di sini:
Suami Menanggung Dosa Istri dan Anak
Penjelasan  Buya Yahya terkait suami menanggung dosa istri dan anak

Tidak Ada Dalil yang Menguatkan

Dosa adalah rahasia ilahi yang mana manusia tidak bisa menilainya sendiri. Akan tetapi, apakah suami menanggung dosa istri dan anaknya hal tersebut tidak benar. Dosa istri ditanggung oleh istri sendiri begitu juga anak ketika dikatakan dewasa atau baligh.

Prinsipnya dosa ditanggung tiap manusia sendiri tanpa melibatkan orang lain jika dilakukan sendiri. Meski demikian bukan berarti suami tidak punya tanggung jawab sama sekali terhadap apa yang dilakukan istri dan anak. Jangan hanya fokus ibadah untuk diri sendiri tapi bimbing juga keluarga.

Suami Bisa Andil dalam Dosa Istri dan Anak

Mungkin pertanyaan dari jamaah lebih tepatnya adalah apakah suami bisa andil dalam dosa istri atau anak. Jawabannya bisa karena suami adalah pemimpin dalam keluarga. Tugas seorang pemimpin adalah memberikan bimbingan yang baik dan mengarahkan ke jalan yang benar.

Contohnya saja jika anak diberi fasilitas teknologi lengkap seperti smartphone. Sebagai suami atau ayah kamu tidak memberikan bimbingan dan batasan anak ketika menggunakannya. Anak yang bermaksiat dengan teknologi pemberian ayah juga ikut andil dalam dosa anak.

Sama halnya dengan dosa istri yang terus dilakukan berulang tanpa larangan suami. Contoh dari kehidupan nyata adalah istri yang suka ghibah dengan tetangga. Sebagai suami kamu membiarkan saja meski tahu perbuatan tersebut dilarang agama.

Dosa ghibah yang dilakukan istri ikut ditanggung oleh suaminya. Tapi jika suami sudah mengingatkan berkali-kali dan tidak diindahkan maka kewajiban suami sudah gugur. Ingatkan terus istri dan anak jika mendekati perbuatan dosa supaya suami tidak ikut andil dalam dosa tersebut.

Di akhirat kelak suami akan ditanya tanggung jawabnya kepada anak dan istri. Itulah kenapa semasa hidup di dunia sebagai suami dan ayah harus terus memantau keluarganya agar istiqomah.

Dosa Guru dan Kyai Karena Anak Didiknya

Masih berkaitan dengan penjelasan suami menanggung doa istri dan anaknya serupa dengan tugas guru. Baik guru di sekolah atau kyai jika melihat anak didiknya berbuat dosa lalu dibiarkan maka ia ikut menanggung dosanya.


Kembali pada peran guru itu sendiri adalah memberikan ilmu, mendidik dan membimbing. Di akhirat kelak guru atau kyai akan dipertanyakan tanggung jawabnya kepada anak didik. Jadi, sebagai guru sudah seharusnya mendidik dan mengarahkan anak didik ke jalan yang benar.

Pekerjaan lain juga kaitannya masih sama yakni akan dipertanggungjawabkan. Apabila tugas yang kamu emban dalam pekerjaan menjadi lahan dosa orang lain maka kamu akan ikut menerima dosanya.
Kehidupan manusia di dunia ini tidak abadi, sebisa mungkin hindari dari perbuatan dosa. Peran kamu sebagai anak dan istri harus senantiasa menjaga perilaku supaya meringankan hisab kepala keluarga di akhirat. Bayangkan jika suami atau ayahmu harus dihisab karena perbuatan maksiatmu sendiri.

Itulah jawaban dari pertanyaan suami menanggung dosa istri dan anaknya atau tidak. Pada dasarnya, istri dan anak menanggung dosa atas perbuatannya sendiri. Terkecuali jika ada andil suami dalam perbuatan istri dan anak tersebut dalam melakukan dosa.